Kuhidupkan komputerku yang sudah tua setelah menunaikan sholat isya, tak tepat waktu memang, karena ketika waktu magrib berlalu aku harus pergi ke rumah guruku, dan mengajari anaknya yang sekarang duduk di bangku kelas 6 hingga pukul 9. Biasanya ia senang belajar matematika, namun malam ini ia memintaku untuk mengajarinya tentang kewarganegaraan. Teringat esok adalah hari pertamanya dalam menjalani ujian akhir sekolah. Semoga lancar!
Semakin lama ucapanku semakin ngelantur ke masalah agama yang jauh dari kewarganegaraan. Entahlah. Sebenarnya itu untuk mengisi waktu istirahat setelah belajar PKn, tepat jam delapan. Kuturuti maunya, ia ingin aku berceritan tentang nabi-nabi setelah sekian lama bercerita tentang agama. Namun ada cerita yang tertahan, yang tak aku ceritakan. Dan aku pikir tak perlu diceritakan, karena itu hanyalah sekelumit ide untukku menulis cerita. Kubiarkan otakku melanjutkan ide tentang cerita itu, sejalan dengan mulut yang bercerita.
Sejam sisanya aku hanya bercerita tentang agama. Sebenarnya hanya nasihat-nasihat saja. Sebenarnya aku tak cukup ilmu untuk menjelaskan itu. Namun aku menjelaskan sesuatu yang aku tahu dan aku yakini. Yah, begitulah. Aku tahu ia mengantuk, tapi ketertarikannya terhadap ceritaku membuat mata dan telinganya tetap bertahan untuk tak memejam dan tetap mendengar. Semoga Allah memberikan berkah kepada seorang murid, yang aku tahu ia baik dan jujur, dan kelak Allah menuntunnya di kehidupan yang semakin tidak karuan. Amin :).
Satu cerita yang aku ingat, dan ia sangat tertarik mendengarnya. Aku bercerita tentang paradoks anak kembar, materi tentang relativitas yang ditemukan oleh Sir Albert Einstein. Ketika itu guru fisikaku, bernama Ibu Maulida, menjelaskan di kelas. Ketika itu aku ogah-ogahan untuk mendengarkan penjelasannya, dengan begitu banyak rumus yang tidak mencekam sebenarnya, kita hanya memasukkan di tempat yang sesuai pada rumus itu ketika menerima soalnya. Namun, ketika beliau menjelaskan tentang paradoks anak kembar, sungguh mataku menjadi cengar, aku bangkit dari lordosis menjadi kifosis.
Disebutkan dalam teori itu bahwa ada dua orang anak, sebut saja Tazma dan Bunny. Keduanya hidup di bumi awalnya, umurnya pun sama. Suatu hari, Bunny pergi ke bulan dan Tazma tetap di bumi. Beberapa tahun kemudian, sebut saja periode di bumi 40 tahun, maka bukan rahasia umum lagi bahwa umur Tazma akan bertambah 40 dari umur awal. Tebaklah, berapakan umur Bunny? Samakah dengan umur Tazma? Ataukah Bunny lebih tua dari Tazma atau sebaliknya? Ketika Bunny sampai di bumi, Tazma tampak lebih tua dibandingkan Bunny. Berarti Bunny lebih muda ketimbang Tazma (hal yang tak perlu dijelaskan lagi)!
Akupun berfikir, sedikit terperanjat dan kaget, entahlah apa namanya, keranjingan atau apa, aku tak tahu. Rasanya aku menemukan sesuatu yang baru aku tahu (atau aku yang bodoh). Aku teringat bahwa ada kehidupan yang kekal setelah kehidupan di bumi, yaitu alam akhirat. Telah dijelaskan, bahwa kita akan hidup selamanya di alam akhirat, kehidupan yang kekal. Lalu aku berfikir, Allah itu ada dimana? Sedangkan Ia adalah Maha Besar, Ia Maha Mengetahui tentang semua alam ini, Ia Maha Tahu segalanya bahkan semua galaksi yang ada di alam semesta ini. Tak perlu itu, Ia dapat mengetahui apa yang kita pikirkan, apa yang akan kita pikirkan, akibat dari apa yang kita pikirkan, SEGALANYA! Allah Maha Besar, Allahu Akbar :). Ia Dzat Yang Sempurna, sungguh! Aku yakin, Ia berada di ketinggian yang entah berapa pangkat berapa kilometer jauh singgasananya dari bumi. Subhanallah, aku tak bisa berkata-kata lagi. Di bulan saja, yang jaraknya dekat dengan bumi, Bunny bisa lebih muda beberapa tahun dari Tazma. Lalu bagaimana nanti jika kita di alam akhirat? Subhanallah, aku tak bisa berkata-kata lagi. Aku yakin semua mengerti dengan penjelasanku kali ini. Itulah rahasia mengapa kehidupan di akhirat itu adalah kekal abadi :).
Satu langkah ilmu untuk mengenal Tuhan kita, bahwa Ia Maha Sempurna. Subhanallah. Semoga Allah selalu memberikan cahaya dalam semua ilmu yang kita pelajari, dan semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar